Yang Muda Yang Berkarya, Yang Tua Yang Bijaksana

Yang Muda Yang Berkarya, Yang Tua Yang Bijaksana

SRUpdate, Community Center (1/22)-  Jurang usia, berbeda masa, perbedaan persepsi, kegagalan untuk saling memahami, keinginan untuk saling mendominasi….

Beberapa hal yang seringkali jadi batu sandungan yang melintangi hubungan kaum muda dan kaum tua kebanyakan. Kaum muda bilang, kaum tua sulit memahami perkembangan masa dan selalu ingin berkuasa, kaum tua bilang, kaum muda itu masih labil dan rentan, tak boleh dibiarkan sendiri dalam membuat sebuah perubahan.

Ya, itu semua nggak bisa kita generalisasi, meskipun nggak bisa dipungkiri bahwa masih sering terjadi. Tapi..kita akan lihat potret hubungan mesra kaum muda dan kaum orangtua yang ada di sebuah desa bernama, Katulampa.

Beberapa hari lalu, para pemuda  di  Desa Katulampa RT 05/09 Kec.Bogor Timur sibuk menggali tanah di salah satu kebun milik warga desa. Kira-kira, apa ya yang akan mereka buat?

Kuburan?

Tempat sampah?

Pondasi rumah?

Berawal dari keresahan dan kegelisahan akibat kurang produktifnya kegiatan di desa, para pemuda, orangtua dan tokoh masyarakat pun berkumpul untuk menggali ide bersama. Kira-kira, apa nih yang bisa kita buat bersama di desa? Kegiatan positif yang menghadirkan manfaat dan bisa jadi ladang usaha yang potensial nantinya?

GURAME!

Dari inisiasi tersebut, setelah melakukan beberapa kali diskusi, akhirnya tercetuslah ide untuk membuat budidaya ikan gurame, budidaya ini nantinya akan langsung dikelola dan dieksekusi oleh para pemuda pegiat Komunitas KOMPAK. Salah satu warga di Desa Katulampa menghibahkan tanahnya untuk menjadi lahan garapan budidaya gurame pemuda Katulampa.

Jibril, salah seorang pemuda desa sekaligus penggerak Komunitas Kompak di Desa Katulampa mengatakan bahwa perencanaan untuk membuat budidaya gurame ini dilakukan sendiri oleh para pemuda Katulampa, para orangtua memberikan kepercayaan dan dukungan tanpa banyak mengintervensi atau mendikte anak-anaknya.

“Berawal dari keresahan dan kegelisahan melihat kegiatan para pemuda yang kurang produktif, terus akhirnya kita putuskan buat kumpul, diskusi dan evaluasi buat inisiasi kegiatan kita. Akhirnya temen-temen Komunitas KOMPAK di Katulampa mulai bergerak dan belajar buat budidaya” Jelas Jibril pada Sekolah Relawan.

Program pembinaan komunitas lokal yang dilakukan oleh Tim Community Development Sekolah Relawan merupakan program Community Center, pendekatan dan pengembangan komunitas desa berbasis lokal menjadi salah satu strategi untuk mengembangkan desa dimulai dari pemuda dan komunitasnya.

Ada hal menarik sebetulnya dalam proses insiasi pembuatan budidaya gurame ini, dalam komunitas setingkat desa, kita meliahat adanya harmoni dan upaya sinergi antara kaum muda dan kaum tua. Ada pembagian peran antara kedua unsur kelompok tersebut.  Tak ada intervensi orangtua pada anak-anaknya, tak ada dikte-dikte yang memaksa, kaum orangtua di Katulampa justru gelisah saat melihat anak-anak mereka berjalan pelan.

Keberadaan kaum orangtua-lah pada hal ini yang menjadi awal pemantik bergeraknya para pemuda, ada kepercayaan yang diberikan sehingga para pemuda pun semangat dan terdorong untuk berkarya dan memulai aksi mereka. Tak sekedar memberikan doa restu, arahan dan dukungan moril, kaum orangtua pun ikut mengkontribusikan “tanah” nya sebagai media berkarya untuk para pemudanya.

Pembagian peran inilah yang  sebenarnya yang jadi hal langka, harmonisasi dan kolaborasi yang terjalin bukan hanya menghidupkan iklim sinergi dan menerobos jurang usia, tapi juga mampu melahirkan berbagai karya dan aksi yang bermanfaat untuk kemajuan desa.

Semuanya ingin dipahami, ingin dimengerti dan ingin didengarkan, proses saling menghargai dan memahami. Dunia bukan milik yang muda atau yang tua saja, dunia milik kita bersama!