Bencana: Kita Tidak Sedang Berbicara Duka

Nelayan dan Kebencanaan: Kita Tidak Sedang Berbicara Duka

SRUpdate, Selat Sunda (12/3)- Tsunami menerjang pesisir Selat Sunda secara tiba-tiba, hantaman keras dari tingginya ombak membawa trauma bagi para penyintas yang selamat.

Tsunami, Luka dan Cerita-Cerita Lainnya

Hari Sabtu, 22 Desember 2018 telah terjadi tsunami yang disebabkan oleh erupsi Gunung Krakatau. Bencana ini tidak diduga sebelumnya karena tidak ada gempa atau tanda-tanda tsunami pada umumnya. Banten dan Lampung adalah dua wilayah besar yang terdampak.  Bencana ini menelan korban sebanyak 437 jiwa.

Saat ini, tsunami Selat Sunda sudah terjadi dua bulan lebih, namun efeknya masih terasa. Warga masih trauma jika terdengar suara gemuruh, mati lampu. Dengan segera mereka mengungsi ke berbagai arah.

Sekolah Relawan dan Kebencanaan

Untuk itulah Sekolah Relawan hadir memberikan edukasi mengenai kebencanaan melalui program Desa Tangguh Bencana. Program ini diimplementasikan di Kampung Tamanjaya, Desa Tamanjaya, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Desa Tangguh Bencana meliputi pembuatan papan edukasi kebencanaan, pemasangan jalur plang evakuasi, pembuatan menara pantau dan tsunami shelter serta pelatihan-pelatihan mengenai mitigasi bencana.

Keterlibatan Nelayan Sebagai Masyarakat Lokal

Motor penggerak dalam program ini adalah nelayan yang tergabung dalam Koperasi Nelayan. Koperasi ini hadir dari kesadaran nelayan yang terkena dampak tsunami dan ingin memperbaiki taraf hidup mereka. Atas dasar itulah mereka membuat koperasi sebagai wadah perkumpulan mereka.


Sekarang, koperasi nelayan sedang membuat papan edukasi kebencanaan. Bengkel produksi papan edukasi ini terletak di rumah ketua koperasi, yaitu Ka Iping. Proses pembuatan papan ini dilakukan dengan bahan dasar pipa paralon yang dibakar agar menghasilkan motif. Kemudian pipa-pipa tersebut dirangkai dan diberikan atap daun kawung serta ijuk.

Sudah 8 papan edukasi yang dibuat sampai saat ini. Memang ada beberapa kendala seperti ijuk yang sulit dicari, namun pembuatan terus berjalan karena kobaran semangat bahu membahu para nelayan.

Karena Kita Tidak Lagi Berbicara Tentang Duka

Meskipun disela-sela kesibukan antara melaut, mengurus rumah tangga dan istirahat, nelayan menyempatkan diri untuk terlibat dalam proses pembuatan papan edukasi. Hal ini yang membuat saya kagum. Karena, selain dampak negatif yang ditimbulkan pasca tsunami, ada pula efek positif yaitu tumbuhnya kesadaran nelayan untuk bersatu.

Kesadaran itulah yang harus terus ditumbuhkan dan dijaga agar masyarakat Tamanjaya pada khususnya, lebih kompak dan saling bahu membahu membangun desa setelah terjadi bencana.



Oleh: Adinda Ahlul
Penyunting: Izhar