Nelayan Berkisah, Narasi Kecil yang Menyembuhkan

Nelayan Berkisah, Narasi Kecil yang Menyembuhkan

Tsunami yang melanda pesisir Palu dan Donggala pada 28 september 2018 lalu tentu saja masih lekat di ingatan para nelayan. Tak hanya kehilangan rumah dan perahu-perahunya, tsunami juga telah memborbardir kampungnya. Melumpuhkan mata pencaharian, menghempas perasaan dan menguji kekuatan untuk bertahan.

Kini 6 bulan pasca bencana, upaya untuk kembali bangkit dan berdaya tak pernah Lelah untuk terus dinyalakan. 

Sekolah Relawan yang sejak oktober 2018 lalu terjun langsung untuk membersamai dan mendampingi para nelayan paham betul proses jatuh dan bangun para pejuang lautan untuk kembali berdiri tegap menatap medan juang mereka.

 Hingga kini dinamika dan proses pendampingan terus berjalan, para nelayan dan relawan melebur melahirkan makna dan kebermanfaatan.

Sebanyak 6 kelompok nelayan yang tersebar di Kampung Bamba, Kampung Kadongo, Mamboro, dan Tompe adalah ruang-ruang kekuatan baru yang diiniasi para nelayan untuk bisa meraih kebangkitan dalam balut kerjasama kekuatan.

Dahulu, sebelum ada tsunami, mereka memang telah mengenal budaya gotong royong dan kerjasama khas masyarakat pesisir, namun pasca tsunami budaya itu diperkuat dengan organisir kelompok nelayan yang memiliki tujuan pada orientasi kemandirian.

Proses pendampingan kelompok nelayan tak hanya berfokus pada penguatan kapasitas kelompok baik secara personal maupun kolektif, tapi juga berupaya memantik mereka agar secara mental dan emosional mampu memperoleh kemerdekaan rasa dan kebebasan berpikir di tengah segala tekanan hidup pasca bencana. Sambil menunggu perahu-perahu mereka selesai, beberapa nelayan ada yang melakoni pekerjaan sebagai kuli bangunan, sementara lainnya ada yang juga masih menganggur dan kerja serbutan.

Dibalik itu semua, selalu ada jalan untuk memantik semangat dan mengisi kekosongan. 

Pada beberapa kesempatan, kami para relawan sahabat nelayan di lapangan tak pernah Lelah membuka ruang-ruang elspresi dan ruang diskusi. Tak hanya membicarakan soal ide atau gagasan masa depan, tapi juga mengajak para nelayan untuk menulis dan menceritakan pengalaman.

NELAYAN BERKISAH, sebuah karya yang kami rencanakan dan kami perjuangkan Bersama. Berbekal secarik keras dan pulpen, para nelayan menumpahkan segala rasa dan pengalamannya tentang kehidupan, tentang laut, tentang keluarga, tentang bencana.

Kami percaya bahwa karya yang mereka tuliskan sendiri, selain akan menjadi fragmen berharga dari sejarah bencana, juga akan jadi warisan bagi anak cucu mereka.

 Hal penting lainnya, fragmen-fragmen tersebut mampu menjadi obat mujarab bagi segala memoar kelam yang masih menghantui pikiran, dan mampu menjadi suplemen manjur bagi duka dan luka yang masih bersarang dalam perasaan.

Kini, lembar-lembar fragmen tersebut sudah dikumpulkan, sedikit demi sedikit tulisan jujur karangan para nelayan itu mulai disusun menjadi sebuah karya berharga yang lahir sebagai bentuk pemaknaan pada bencana. Bahwasanya, bencana tak selalu melahirkan duka, tapi juga mampu melahirkan karya-karya luar biasa.


Oleh: Adinda Ahlul