• Kontak Kami: (021) 77805706
Menjadi Dermawan, Meneladani Sikap Rasulullah SAW

Menjadi Dermawan, Meneladani Sikap Rasulullah SAW

Menjaga hubungan dengan Allah SWT adalah suatu keharusan. Namun menjaga keseimbangan antara hubungan dengan Allah dan hubungan sesama manusia juga harus diperhatikan. Umat yang ingin bahagia dunia dan akhirat harus dapat menjaga hubungan dengan Allah SWT dan manusia. Bentuk menjaga hubungan dengan Allah dapat dilakukan melalui ibadah wajib dan sunnah, sedangkan hubungan dengan manusia adalah dengan melakukan ibadah sosial.

Di antara ibadah sosial yang sangat penting adalah bersedekah. Sebagai makhluk sosial, kita harus memiliki kepedulian kepada mereka yang membutuhkan, membantu dhuafa, atau orang-orang yang mengalami kekurangan. Salah satu ciri manusia ahli surga adalah gemar bersedekah. Dalam surat Adz-Dzariat disebutkan “di dalam harta mereka terdapat hak untuk orang-orang miskin yang meminta maupun orang miskin yang tidak meminta”

Sebagai umat Nabi Muhammad SAW, sudah sepantasnya kita meneladani sikap beliau dalam segala hal termasuk sikap kedermawanannya. Segala kebaikan dan kemuliaan telah dilimpahkan kepada diri Rasulullah, sehingga akhlak beliau menjadi panutan manusia hingga akhir zaman. Dari Jabir radhiallahu ‘anhu berkata, “Tidaklah pernah sama sekali Rasulullah diminta suatu (harta) lalu beliau berkata tidak.” (Muttafaq Alaih)

Suatu ketika ada seorang pengemis dari kalangan Anshar datang meminta-minta kepada Rasulullah SAW. Lalu beliau bertanya kepada pengemis tersebut, “Apakah kamu mempunyai sesuatu di rumahmu?” Pengemis itu menjawab, “Tentu, saya mempunyai pakaian yang biasa dipakai sehari-hari dan sebuah cangkir.” Rasulullah lalu berkata, “Ambil dan serahkan kepada saya” Pengemis itu pun pulang mengambil satu-satunya cangkir miliknya dan kembali lagi pada Rasulullah. Rasulullah kemudian menawarkan cangkir itu kepada para sahabat, “Adakah di antara kalian yang ingin membeli ini?” Seorang sahabat menyahut, “Saya beli dengan satu dirham.” Rasulullah menawarkannya kembali, “Adakah di antara kalian yang ingin membayar lebih?” Lalu, ada seorang sahabat yang sanggup membelinya dengan harga dua dirham. Rasulullah memberikan dua dirham itu kepada si pengemis, lalu menyuruhnya menggunakan uang itu untuk membeli makanan bagi keluarganya dan sisa uangnya digunakan untuk membeli kapak. Rasullulah berkata, “Carilah kayu sebanyak mungkin dan jual lah, selama dua minggu ini aku tidak ingin melihatmu.” Sambil melepas kepergiannya, Rasulullah pun memberinya uang untuk ongkos. Dua minggu kemudian pengemis itu datang kembali menghadap Rasulullah sambil membawa uang sepuluh dirham hasil dari penjualan kayu. Kemudian Rasulullah menyuruhnya untuk membeli pakaian dan makanan untuk keluarganya seraya bersabda, “Hal ini lebih baik bagi kamu, karena meminta-meminta hanya akan membuat noda di wajahmu di akhirat nanti. Tidak layak bagi seseorang meminta-minta kecuali dalam tiga hal, fakir miskin yang benar-benar tidak mempunyai sesuatu, utang yang tidak bisa terbayar, dan penyakit yang membuat seseorang tidak bisa berusaha.“

Melalui kisah tersebut, kita dapat mengambil pelajaran bahwa Beliau tidak menolak memberi bantuan kepada orang tersebut meski sebenarnya dia bisa mendapatkan uang jika berusaha, namun Rasulullah membekalinya “kail” agar kelak bisa hidup mandiri dan tidak jadi peminta-minta lagi.

Selain itu, Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata “Nabi Muhammad SAW melewati Bilal, sedangkan di sisinya ada setumpuk gandum, lalu beliau besabda, “apa ini wahai Bilal?” Dia menjawab, “Saya menyiapkannya untuk tamu-tamumu”. Beliau berkata “Tidakkah engkau takut bahwa engkau memiliki masakan di Neraka Jahanam? Infakkan wahai Bilal dan janganlah engkau takut kemiskinan dari Dzat Yang memiliki Arsy”

Ada begitu banyak kisah teladan mengenai betapa dermawannya Rasulullah SAW, Beliau tidak takut bersedekah bahkan Beliau takut menjadi orang kaya. Melalui kisah tersebut, kita semua dapat mengambil pelajaran berharga bahwa memberi itu sesungguhnya bukan perkara memberi kepada siapa, namun tergantung apa niat kita bersedekah. Rasulullah SAW menganjurkan kita bersedekah kepada fakir miskin dan orang-orang yang tidak bisa berbuat apapun karena kondisi dirinya sehingga tidak bisa mencari nafkah, namun Rasulullah SAW memberi teladan dengan bersedekah pada peminta-minta yang masih terlihat sehat dan mampu bekerja, Beliau tidak hanya memberi, namun membekalinya pemahaman bahkan modal usaha. Mari meneladani sikap dermawan Rasulullah SAW dengan membantu sesama manusia yang kekurangan. Sedekah tidak akan membuat kita kurang!