• Kontak Kami: (021) 77805706
Mengenal Gempa Megathrust yang Disebut Akan Terjadi dalam Waktu Dekat

Mengenal Gempa Megathrust yang Disebut Akan Terjadi dalam Waktu Dekat

Isu megathrust saat ini mulai ramai dibicarakan berbagai media hingga masyarakat. Mega yang berarti besar, dan thrust yang berarti dorongan, menimbulkan persepsi bahwa megathrust berarti gempa yang besar. Indonesia disebut berpotensi dilanda gempa megathrust yang juga dapat menimbulkan tsunami. Lantas, apa itu gempa megathrust?

Menurut BMKG, informasi potensi gempa megathrust sudah sering muncul dan terus berulang sejak peristiwa tsunami Aceh di tahun 2004 silam. Kepala Pusat Seismologi Teknik Geofisika Potensial dan Tanda Waktu BMKG, Jaya Murjaya, menjelaskan bahwa sebagaimana namanya, gempa megathrust berasal dari apa yang disebut zona megathrust, yaitu zona tumbukan antara lempeng Indo, Australia dan Euarasia. Di Indonesia, zona megathrust sudah ada sejak jutaan tahun lalu saat terbentuknya rangkaian busur kepulauan Indonesia. Zona megathrust berada di zona subduktif aktif, seperti subduktif Sunda (Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, Sumba), lempeng Laut Maluku, Sulawesi, lempeng Laut Filipina, dan Utara Papua.

Peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) merilis riset akan adanya potensi tsunami di selatan Jawa dengan ketinggian mencapai 20 meter yang terbit di jurnal Nature Scientific Report. Hal tersebut menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat seolah-olah tsunami akan terjadi dalam waktu dekat. 

Hingga kini, belum ada teknologi yang bisa memastikan kapan terjadinya gempa megathrust ini. Oleh karena itu, BMKG mengimbau kepada masyarakat di sepanjang jalur pertemuan lempeng tektonik harus siaga. Seringnya zona selatan Jawa dilanda gempa dan tsunami memang merupakan risiko yang harus dihadapi oleh masyarakat yang tinggal di pertemuan batas lempeng tektonik, namun tidak perlu selalu merasa cemas. Kepala Bidang Informasi Gempabumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Daryono mengatakan dengan mewujudkan upaya mitigasi yang konkrit maka kita masih dapat meminimalkan risiko, sehingga masih dapat hidup aman dan nyaman. Di sisi lain, masyarakat harus terus meningkatkan literasi agar tidak mudah panik ketika berhadapan dengan informasi potensi bencana.