Megathrust: Fiksi atau Potensi?

Sekolahrelawan.com, Edukasi (20/2) - Ada sebuah ancaman besar bagi peradaban manusia di beberapa Negara, salah satunya Indonesia. Guncangan dahsyat dan tingginya gelombang adalah potensi yang paling dekat dengan Nusantara. Lantas apa bentuk ancaman tersebut?

Setahun belakangan istilah megathrust sedang naik daun di beberapa kalangan, para peneliti dan badan yang bersangkutan sering berbisik tentang potensi dan dampak dari bencana ini. Terus apa sih megathrust itu dan kenapa isu ini perlu kita ketahui?


Pengertian "Thrust" adalah gerak sesar naik yang berarti mekanisme gerak lempeng yang menimbulkan gempa dan memicu tsunami.

Menurut Daryono, Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, megathrust dapat diartikan gerak sesar naik yang besar dan mekanismenya bisa terjadi di pertemuan lempeng benua. Dalam arsitektur lapisan penyusun bumi, wilayah pertemuan dua lempeng ini disebut zona subduksi.

Zona megathrust sendiri terbentuk ketika lempeng samudera bergerak ke bawah menunjam (subduksi) lempeng benua dan menimbulkan gempa bumi.

Dikutip dari Kompas.com, zona subduksi ini diasumsikan sebagai sebuah zona “patahan naik yang besar” atau populer disebut zona megathrust," begitu kata pak Daryono.


Wah kalau kita lihat pengertian megathrust yang dipaparkan oleh pak Daryono bikin kita dagdigdug ya, gerak sesar naik yang besar pada pertemuan dua lempeng benua, duh bisa kita bayangkan dampak apa yang dihasilkan setelahnya. Eh, tapi megathrust ini sebuah potensi atau hanya fiksi sih?


Tentu fiksi dong

Ah ini mah fiksi kok, cuma cerita-cerita dan momok menakutkan aja yang membuat kita gempar. Benar, ini fiksi jika kita lihat dari kabar-kabar yang beredar mengenai akan terjadinya megathrust dalam waktu dekat. Akhir februari 2019 adalah malapetaka untuk sebagian wilayah di Negeri maritim ini, banyak kabar yang mengatakan bahwa akan terjadi megathrust dengan skala gempa yang besar dan berakibat tsunami dengan gelombang yang tinggi.

Namun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan kabar beredar tentang prediksi gempa bumi megathrust yang akan terjadi pada akhir Februari adalah kabar bohong atau hoax. BMKG meminta masyarakat untuk tidak menyebarkan ulang informasi tersebut.

Eh, ini juga potensi tau!

Ternyata, zona megathrust sudah ada sejak jutaan tahun lalu loh jadi bukan hal baru bagi peradaban bumi. Penelitian dan pengkajian terhadap megathrust yang baru didalami lagi pada 14 Februari 2019 kemarinlah yang memunculkan spekulasi-spekulasi baru. Banyak orang beranggapan bahwa megathrust akan terjadi dengan guncangan yang besar, padahal menurut jejak data gempa yang terjadi pada zona megathrust adalah gempa kecil dengan skala tidak lebih dari 5,0.

Faktanya, berdasarkan kajian kegempaan yang dipaparkan oleh Pak Daryono selaku Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, setiap zona subduksi itu punya potensi gempa yang berbeda-beda.

Untuk besarnya gempa yang akan terjadi belum bisa diprediksi dan sangat bergantung pada gerak serta kedalamannya. Yang perlu kita ketahui adalah tidak setiap gempa megathrust menimbulkan tsunami.Karena tsunami punya syarat, yaitu gempa besar, hiposenter dangkal dan gerak sesar naik.

Dengan begini, para ahli dan instansi yang bertugas terus melakukan kajian dan penelitian terhadap perkembangan potensi megathrust



Oleh: Izhar Alkhalifard