Kisah Teman Tuli Menjadi Juru Parkir, Pemecah Kemacetan di Pinggiran Ibu Kota

Kisah Teman Tuli Menjadi Juru Parkir, Pemecah Kemacetan di Pinggiran Ibu Kota

sekolahrelawan.com- Dalam perjalanan mengantar Food Box Delivery, langit sore itu begitu mendung, geluduk mengiringi kebul asap kendaraan kami. Rintik demi rintik membasahi telapak tangan orang-orang yang berada di jalanan, dari kejauhan kami melihat sepasang ibu-ibu dan bapak-bapak yang sedang asik mengatur lalu lintas di daerah Karang Tengah, Jakarta Selatan.

Dalam suasana gelap, samar-samar kami lihat ia tak pernah meniupkan priwitan, tak juga mereka teriak-teriak kepada padatnya kendaraan.

Kami menepi sejenak, membuka tas pikul yang berada di belakang motor. Tas besar penuh dengan makanan Food Box ini kami geladah isinya, kami ambil 2 bungkus untuk kedua orang yang sedang asik mengatur lalu lintas di tengah jalan sana.



"Permisi bu, maaf ini ada rejeki makanan untuk buka" sapa kami sembari memberi dua kotak food box

Suasana hening, tak ada jawab yang kami dengar. Namun, samar-samar ada upaya untuk menyampaikan sesuatu dari Ibu ini.

Beliau berusaha menggerakan kedua tangannya, dan menyusuri indera tubuhnya sambil tersenyum, menandakan sebuah isyarat untuk teman-teman yang menyandang keterbatasan indera.

Ah, beruntungya aku. Di sore yang temaram ini, aku dipertemukan dengan teman tuli yang sedang berjuang di tengah jalan sebagai juru parkir.

Kami balas dengan bahasa Isyarat lagi, dan mulai detik itu kami bertukar informasi. Tak terasa perbincangan seru ini membawa kami ke waktu berbuka lebih cepat.



Bu Salma seorang ibu tujuh anak yang menghidupi anak-anaknya dari padatnya lalu lintas di pinggir ibu kota. Bu Salma sudah tiga tahun menjadi juru parkir di daerah Karang Tengah, berangkat dari rumah kontrakannya di Citayam, Depok ia menaru harap dan semangat di ujung jalan raya sana.

Anak-anak bu salma tidak ada yang sekolah, beliau cerita bahwa kebutuhannya untuk menghidupi keluarganya hanya cukup sampai makan dan bayar kontrakan, untuk menyekolahi anak-anaknya ia belum mampu.

Adzan magrib memecah obrolan kami, alhamdulillah waktu berbuka untuk wilayah Jakarta sudah tiba.

Selepas adzan magrib, kami melihat bu Salma sedang menikmati makanan yang kami berikan tadi. Sepertinya ia sadar sedang kami perhatikan, dengan cepat ia langsung melempar senyuman paling manis sambil mengunyah makanan di mulutnya.

"Alhamdulillah, rezeki dari Allah. Ibu Bersyukur dapat makanan" ucapnya dengan bahasa isyarat.

Semoga ibu Salma dan Suaminya senantiasa diberikan keberkahan rezeki, kesehatan dan semangat untuk terus menjalankan beratnya kehidupan.