Kemewahan Kreatifitas Warnai Acara Peresmian Perahu Nelayan Palu

Kemewahan Kreatifitas Warnai Acara Peresmian Perahu Nelayan Palu

SRUpdate, Recovery Program, Sulawesi Tengah (29/1)- Sinar matahari pagi  di Kampung Bamba pada selasa 29 Januari 2019 tercipta dari pantulan senyum ikhlas  para nelayan yang menengadah penuh syukur ke atas  langit Bamba.

Ombak laut di pagi hari menari dengan manja seraya menonton kerja-kerja sederhana para nelayan yang sibuk menata dekorasi acara pesta dan slametan di atas bekas puing-puing tsunami.

Tak ada kemewahan dari mahalnya tenda atau panggung acara, tak ada bau-bau makanan katering yang mengepul dari baris-baris prasamanan meja, ataupun juga tak ada gaungan suara-suara alat musik yang disewa berjuta-juta demi memanjakan telinga.

Pada pagi itu, Bamba hanya tercipta dari hamparan kesederhanaan dan semangat gotong-royong para nelayan serta warga, itu semua dibalut dalam sebuah kemewahan langka bernama: Kreatifitas dan solidaritas. 

Deretan kayu bekas puing reruntuhan disusun rapi menjadi latar etnik yang apik, jaring bakal cari ikan yang telah yang rusak disulap jadi ornamen penghias singgasana panggung nelayan.  Bangkai perahu pun berdiri gagah melengkapi kemewahan Kreatifitas panggung nelayan.

Perahu-perahu nelayan berbaris rapi di pinggir pantai Bamba, tempat yang sama namun kini sungguh berbeda. Tsunami sempat memukul mereka namun kini luka telah berhenti asa.

3 bulan sudah Tim Sekolah Relawan mendampingi para nelayan untuk kembali bangkit berdaya. Pembuatan perahu hanyalah salah satu dari sekian banyak upaya.  Acara peresmian "Perahu untuk Nelayan Palu" bersama Sekolah Relawan dihadiri oleh para nelayan, warga sekitar, elemen pemerintah dan beberapa mitra kebaikan.  Sebanyak 40 perahu pada tahap pertama berhasil diserah terimakan, sementara perahu-perahu lainnya masih dalam proses pembuatan.

"Segala yang kita lewati sejak 3 bulan lalu itu penuh dengan proses yang panjang. Kita berharap para nelayan Palu bisa kembali bangkit memulai hidup pasca bencana. Kita mungkin bisa menghitung berapa banyak kerugian yang ada karna bencana, tapi bisakah kita menghitung berapa banyak nikmat dan kebaikan yang kita dapatkan dari laut ini? Dari sejak kita kecil hingga sekarang?"

" Perahu-perahu yang ada disini juga adalah hasil dari patungan para relawan, para relawan merogoh sakunya sendiri, perahu ini  adalah hadiah dari makhluk Tuhan untuk makhluk lainnya. "  Ungkap Bayu Gawtama, Presiden Sekolah Relawan. 

Tak hanya sekedar memberikan perahu, Sekolah Relawan berupaya untuk membersamai para nelayan dalam proses inisiasi pembuatan kelompok nelayan, serta menjadi bagian dari masyarakat nelayan Kampung Bamba.

Salah seorang nelayan bahkan mengatakan bahwa kehadiran perahu baru tak hanya memberikan semangat baru untuk dirinya, tapi juga mendorong itu untuk mampu membantu nelayan lain yang bernasib sama.

"Saya berharap semoga setelah saya bisa melaut dan dari ikan lagi, saya bisa membantu nelayan lain yang juga masih membutuhkan bantuan. Saya tahu apa yang mereka rasakan" Ungkap Pak Badrun, salah satu nelayan.

Perahu untuk nelayan Palu akhirnya telah sampai ke pelukan para nelayan, kembali menemani nelayan untuk berjuang mencari sumber penghidupan di lautan. Ini semua tak akan pernah terjadi tanpa adanya sinergi dan kolaborasi antara Sekolah Relawan dan mitra kebaikan.

Sementara itu, Muhamad Musa, Relawan pendamping nelayan mengungkapkan harapan anak ajakan positifnya, tak hanya untuk nelayan Palu tapi juga untuk kita semua. 

"Kita berharap bahwa keberadaan perahu bisa memberikan manfaat bagi para nelayan dan keluarganya. Mereka akhirnya bisa kembali melaut, kembali ke tempat mereka.  Tapi, kita juga tidak boleh menutup mata, masih banyak nelayan yang hingga kini membutuhkan perahu. Jadi, semoga segala sinergi kebaikan selalu menyala dan terjalin, perjuangan tak akan pernah mengenal kata selesai" Ungkapnya kepada Sekolah Relawan.