Engkong Hanafi 72 Tahun Hidup Dalam Gundukan Singkong dan Tahu

Engkong Hanafi 72 Tahun Hidup Dalam Gundukan Singkong dan Tahu

“Hidup ini adalah tentang perjuangan dan rasa syukur, keduanya adalah gundukan bahan bakar yang akan menyulut semangat kita untuk meraih tujuan hidup dan kebahagiaan akhirat.”


sekolahrelawan.com- Semburat matahari menyambut pagi, seolah-olah tahu bahwa hari ini senyum kebahagiaan akan lahir lagi dari wajah-wajah orang istimewa pilihan-Nya. Alhamdulillah kali ini kami Relawan dari Sekolah Relawan berkesempatan untuk berkunjung ke rumah sederhana milik penerima manfaat Engkong Hanafi untuk menyerahkan amanah dari sahabat-sahabat baik Indonesia yaitu sebuat paket Kado Sambut Ramadhan.
 
Engkong Hanafi berusia 72 Tahun, beliau adalah seorang Kakek tua yang kesehariannya berjualan singkong rebus dan tahu goreng. Disamping itu juga beliau menjajakan aneka kopi dan minuman seduh di warung mungil miliknya yang terletak di pinggir Jalan Raya Cendrawasih, Bintaro.

Saat kami datang dan mengucapkan salam, terlihat engkong Hanafi masih fokus dengan kegiatannya.

Sesegera mungkin kami memperkenalkan diri dan menyampaikan maksud tujuan kami berkunjung kerumah beliau karena ingin memberikan Kado Sambut Ramadhan.


Setelah mengetahui maksud kami, Engkong Hanafi terlihat begitu terkejut. Mata beliau terlihat berkaca-kaca dan berkali-kali beliau mengucap syukur, “Alhamdulillah ya Allah terimakasih neng, maaf ya ini tempat tinggal engkong kayak gini cuma gubuk,” Sambil mengusap paket yang kami berikan.


Saat kami jelaskan bahwa isi paket ini adalah sembako, beliau kembali menyeka wajahnya untuk bersyukur. dan mengatakan "Alhamdulillah ya Allah, kebetulan bahan jualan engkon udah habis"

Bukan hanya kondisi perekonomian engkong aja yang sedang diuji, namun tempat bernaung engkong juga jadi sorotan mata kami yang sudah berbinar.


Bagaimana mungkin engkong Hanafi ternyata hanya tinggal sendiri di bangunan kecil non permanen berukuran 4 x 5 meter. Mungkin ini bisa dibilang bukan sebuah rumah melainkan hanyak gubuk kecil yang beralaskan tanah, dindingnya dari seng bekas, dan atapnya hanya ditopang oleh bambu tua yang sudah lapuk. Didalam nya hanya terlihat ada sekotak kasur yang sudah lusuh, untuk alas tidur beliau. 

Beliau cerita jika singkong rebusnya tidak habis dijual, beliau mengolah singkong rebus tersebut menjadi keripik singkong untuk dijual agar tidak mubadzir, satu plastik kecil hanya di hargai dua ribu rupiah. Beliau juga mengatakan terkadang menitip jualan keripik olahanya di warung lain. Penghasilan beliau setiap harinya dari hasil berdagang kurang lebih hanya mendapat 30 ribu saja.

“Alhamdulillah, ya dicukupin aja. Uangnya di puter, yang penting ada beras, kalo ga ada uang engkong makan lauk tahu jualan" Sambil menunjukkan sisa gorengan jualannya.


Setelah mengobrol banyak akhirnya kami memutuskan untuk pamit pulang. Saat sedang berpamitan dengan engkong Hanafi, beliau tidak putus-putus nya mengucapkan kata Terimakasih. Beliau juga mendoakan untuk para donator Sekolah Relawan dan para relawan, semoga selalu sehat, dimurahkan rezeki, semoga bantuan ini menjadi berkah, dan menjadi tabungan nanti di akhirat. Aamiin…

Maa syaa Allah, sungguh mendengar kisah engkong Hanafi kami merasa iba, dan sangat terharu atas perjuangan hidup beliau. Diusia senja beliau dalam posisi hidup serba pas-pasan, serta jauh dengan keluarga nya. Beliau tetap semangat mencari rezeki dan tidak lupa untuk selalu bersyukur.

Kawan baik mari kita Doa kan, semoga dengan adanya Kado Sambut Ramadhan ini dapat mengukir lebih banyak senyum di wajah orang-orang terbaik pilihan Allah, dan membakar semangat kita untuk terus berbagi terhadap yang membutuhkan.
 
Jangan Kasih Kendor!


Oleh: Febriana K
Penyunting: Izhar