11 Kekayaan Asmat dari Kacamata Relawan Tatar Nusantara

11 Kekayaan Asmat dari Kacamata Relawan Tatar Nusantara

SRUpdate, Kacamata Relawan, Tatar Nusantara (1/17)- Setahun lalu kisruh kasus gizi buruk yang dikabarkan melanda Asmat menimbulkan kekisruhan di tengah masyarakat, berbagai kabar dan informasi yang diproduksi oleh media mainstream seakan memberikan pukulan telak bagi pemerintahan Indonesia tentang abainya pengawasan dan lemahnya pendampingan pada masyarakat Asmat.

Untuk merespon hal tersebut, Sekolah Relawan ikut terjun langsung ke Asmat, bukan Cuma untuk menyalurkan bantuan logistic atau membawa tenaga medis saja, tapi juga berkomitmen untuk mennerjunkan relawan pendamping masyarakat yang mau dan mampu membersamai masyarakat Asmat dalam menggali kekuatan lokalnya selama satu tahun penuh!

Mengasihani Asmat dan mengganggap bahwa Asmat adalah daerah tertinggal yang terpuruk tentu adalah sebuah kacamata keliru dan salah, rupanya selama satu tahun tinggal bersama masyarakat Asmat, Tika Ariesta, Relawan Tatar Nusantara, menemukan banyak kekayaan dan keunikan masyarakat Asmat yang selama ini tidak diketahui orang banyak. Asmat bukan hanya tentang kasus Gizi Buruk, bukan hanya tentang Papua, tapi juga tentang sejuta kekayaan kemanusiaan yang tersembunyi dibalik akses dan keterbatasan pintu informasi luar.

Lalu apa saja kekayaan Asmat yang ditemukan oleh Relawan Tatar Nusantara selama berada disana?

1.  Tak Ada Kata Pelit Bagi Orang Asmat

Keluarga adalah harta yang paling berharga. Seperti itulah potongan lagu Keluarga Cemara, tentu setiap keluarga memiliki warna kasih sayang berbeda. Begitupun kisah  keluarga Asmat. Keluarga Asmat biasanya akan tinggal secara komunal dan hidup berdampingan dari berbagai marga yang berbeda. Mereka memiliki pola komunikasi yang cukup terbuka. Di dalam rumah keluarga biasanya akan hidup bersama lebih dari satu keluarga. Keluarga Asmat tak pernah menyembunyikan “Harta” yang mereka miliki dari saudara-saudara atau keluarga yang lainnya. Tak ada kata pelit bagi mereka, berbagi seakan sudah menjadi kebiasaan.  Sebagai contoh, ketika seorang mama sedang memasak di salah satu tungku, lalu ia membutuhkan garam, maka sang mama akan berteriak meminta garam pada mama lain yang sedang memasakan di tungku lainnya.

“Hei, Ada garamkah?” Tanya mama pada mama lainnya

Garam dan bumbu-bumbu lain pun akan berjalan dari satu tungku ke tungku lainnya. Bumbu dapur dan segala pelengkapnya menjadi milik bersama. Tak hanya soal garam atau bumbu dapur saja, setiap kali mendapat uang dari hasil sensor kayu atau jual ikan, keluarga Asmat juga tak akan memakai uang tersebut untuk kepentingan sendiri, mereka akan membagi-bagikan uang itu pada saudara dan keluarga lainnya, hal itulah yang membuat orang Asmat seringkali sulit menyimpan uang.

2.  Rumah Bujang Awal Peradaban

Rumah bujang adalah rumah adat sekaligus tempat tinggal bagi para kepala adat. Dulu, keluarga Asmat akan tinggal satu rumah bersama di rumah bujang, namun sekarang  rumah ini biasanya hanya dipakai untuk acara adat masyarakat. Di rumah bujang ada  beberapa tungku marga, sama seperti di rumah orang Asmat pada umumnya, namun yang menarik, menurut Tika Arista selaku relawan Tatar Nusantara yang mengadi di Asmat, ada sebuah tempat di tengah rumah bujang yang menyimpan benda keramat dari nenek moyang.

Setahun berada disana, Tika bahkan tidak mengetahui apa barang yang dijaga oleh masyarakat Asmat disana, yang jelas itu semua berkaitan dengan kepercayaan mereka untuk selalu menjaga warisan leluhur. Rumah Bujang memiliki nilai filosofis yang kuat berkaitan dengan kebersamaan dan persatuan yang dibangun masyarakat Asmat. Meskipun ada banyak tungku marga, namun mereka tetap berada dibawah atap yang sama dan di atas tanah yang sama pula.

3.  Perempuan Asmat Tak Pernah Menyerah

Perempuan dilahirkan untuk menjadi seorang pejuang. Begitupun perempuan Asmat. Permepuan Asmat adalah seorang pejuang ulung bagi keluarga dan masyarakat, mereka biasa megambil peran sebagai ibu sekaligus pencari makan bagi keluarga. Menurut Tika, ia sering mengikuti aktivitas mama-mama Asmat yang sangat padat dan sibuk setiap harinya. Mulai dari mengurus anak, memasak, membersihkan rumah, mencari ikan, memangkur sagu, hingga aktif berkegiatan di masyarakat.

Tika tak pernah berenti kagum pada mama-mama dan perempuan Asmat, menurut Tika, cahaya keistimewaan dan pijar kekuatan perempuan Papua membuat Tika semakin terinspirasi dan yakin bahwa perempuan memang terlahir sebagai pejuang!

4.  Pesta Ulat Sagu Warnai Desa

Di kota besar ulat mungkin seringkali dianggap hewan yang mengerikan, tapi di Pedalaman Asmat Distrik Siret, Ulat adalah sahabat sekaligus santapan lezat! Tapiii..bukan sembarang ulat lho, melainkan ulat sagu! Tika mendapatkan kesempatan emas untuk mengikuti pesta ulat sagu bersama mama-mama Asmat. Pesta ulat sagu adalah proses memangkur sagu yang dilakukan oleh para mama Asmat secara bergotong royong di hutan, dalam proses sangkur sagu itu, ada ulat-ulat sagu yang melimpah dan seringkali diolah jadi santapan lezat yang bergizi.

Selain pangkur sagu, acara pesta ulat sagu juga diwarnai dengan pawai desa, para mama akan berdandan dan memakai kostum, menjadi peran yang mereka suka dan berjalan keliling kampung untuk menghibur masyarakat lainnya.

5.  Membaca Jejak Alam

Menurut tika, setiap pagi para bapak-bapak Asmat seringkali duduk depan dermaga untuk membaca cuaca dan ombak sebelum mencari ikan, hal ini penting untuk menjadi acuan mereka dalam berkegiatan. Tak hanya itu, membaca jejak alam juga diterapkan dalam pola asuh dan pengawasan anak-anak mereka.

Beberapa kali Tika mengisahkan bahwa sempat ada jejak kaki buaya ditemukan, hal ini membuat para orangtua dengan sigap memberikan ultimatum pada anak-anak mereka untuk tidak dekat-dekat dan mandi di sungai.

6.  Alam , Sekolah Terbaik Tempat Bertahan

Berhenti “mengasihani” Asmat. Mereka memiliki kekuatan dan perisai diri untuk tetap bertahan. Segala anggapan soal Asmat yang terpuruk, tertinggal dan miskin harus kita singkirkan! Karena pada kenyataannya, Asmat memang sangat kaya, mereka hanya butuh dibersamai untuk mengolah dan mengelola kekayaannya. Alam juga menjadi sekolah dan tempat bertahan bagi mereka, orang Asmat dan alam sudah jadi satu paket yang tak bisa dipisahkan.

Bersatu dengan  rawa dan sungai, mencari kebutuhan di hutan hingga menangkap udang dan ikan. Semuanya adalah harmoni kehidupan di pedalaman yang hanya dipahami oleh mereka masyarakat lokal

7.  Kaukan, Tanda Kasih Sayang

Bagi perempuan Asmat, potong rambut adalah cara untuk mengekspresikan kesedihan sekaligus cinta. Saat ada salah seorang anggota keluarga yang meninggal, maka perempuan Asmat biasanya akan memotong rambut mereka. Hal ini juga disaksikan langsung oleh Tika, ia melihat mama dan nenek menangis berdua di halaman sehabis memotong rambutnya. Ini semua terjadi karena keduanya masih teringat akan kematian anak sekaligus cucunya.

8.  Nama dan Coretan Sagu, Sebuah Pemberian  dan Pengakuan Keluarga

Apa yang menjadi indikator penerimaan masyarakat pada pendatang? Menurut Tika, salah satu ciri bahwa masyarakat Asmat sudah menerimanya sebagai keluarga adalah ketika orangtua angkatnya memberinya nama Asmat. Nama itu ia peroleh saat berada di hutan bersama mama dan mama adik, mama memberikan nama mendiang anaknya yang meninggal pada Tika. Selain pemberian nama Asmat, proses coret sagu di muka juga adalah salah satu tanda kedekatan masyarakat Asmat dengan relawan. Jika sudah kena coretan sagu, maka selamat bahwa kamu telah diterima seutuhnya oleh mereka J

9.  Cicip Air Sungai

Hal menarik lainnya yang Tika ditemui di Asmat adalah tradisi cicip air sungai. Menurut Tika, salah satu bagian dari tata karma sosial pendatang ketika berada di Asmat adalah keharusan untuk mencicipi air sungai dan mandi di sungai bersama masyarakat. Jangan sampai melewatkan tradisi ini ya biar afdol!

10.  Ambil Lumpur Taruh di Muka

Selain mandi di sungai, memakai masker lumpur juga adalah satu tradisi unik yang biasa dilakukan oleh para pendatang. Tujuannya sih supaya kita yang datang ke Asmat bisa merasakan langsung lumpur Asmat, lebih menyatu dengan alam dan tanah Asmat.

11.  Masyarakat Asmat Suka Berolahraga

Ditengah gaya hidup dan kebiasaan masyatakat Asmat yang serba dekat dengan alam, masyarakat Asmat juga adalah masyarakat yang gemar berolahraga. Setiap sore mereka sering meluangkan waktu untuk bermain volley bersama. Mulai dari anak-anak, remaja, para mama hingga kaum pria tak mau ketinggalan untuk ikut menggerakan badan bersama.

Sebenarnya masih banyak kekayaan sosial budaya masyarakat Distrik Siret, Asmat yang Tika temui, tak bisa selesai diceritakan dalam satu kibasan tulisan tangan saja. Naaaaah..selalu ada kekayaan dan ilmu baru di setiap daerah penempatan relawan Tatar Nusantara. Semua itu pasti jadi modal berharga yang jadi kenangan sekaligus pengalaman bagi relawan yang mengabdi di daerah pedalaman. Kamu juga ingin merasakan hal yang sama? cek instagram @Tatarnusantara atau  @Sekolahrelawan Tunggu kabar baik dari kami dan persiapkan diri segera ya!